Yuk Belanja
Perang di Iran tak hanya soal medan tempur, ia membuka kembali satu kelemahan lama militer Amerika Serikat (AS): stok amunisi yang belum siap untuk menghadapi konflik panjang di banyak front sekaligus.
Mengutip The Economist, bahkan di fase awal, intensitas perang sudah melonjak tajam. Dalam empat hari pertama saja, lebih dari 5.000 amunisi dikerahkan. Angka itu hampir dua kali lipat menjadi sekitar 11.000 dalam 16 hari. Skala ini menjadikan operasi pembuka sebagai salah satu yang paling intens dalam beberapa dekade terakhir.
Menariknya, lonjakan besar ini terjadi saat pesawat tempur belum sepenuhnya leluasa memasuki wilayah Iran. Sistem pertahanan udara Iran masih aktif, memaksa serangan dilakukan dari jarak jauh. Akibatnya, AS mengandalkan amunisi presisi jarak jauh, yang mahal dan jumlahnya terbatas.
Pusat Studi CSIS mencatat, lebih dari 1.000 unit amunisi jenis ini sudah habis hanya dalam enam hari pertama, termasuk rudal anti-radar untuk melumpuhkan pertahanan lawan.
Namun, situasi berubah setelah ruang udara mulai dikuasai. Strategi pun bergeser. Serangan jarak dekat mulai mendominasi, dengan bom yang lebih sederhana seperti JDAM menjadi andalan. Selain lebih murah, stoknya juga jauh lebih banyak dan produksinya lebih cepat. Bahkan, Pentagon memperkirakan hampir seluruh amunisi setelah dua minggu pertama berasal dari kategori ini.
Tekanan tidak hanya datang dari serangan, tapi juga dari pertahanan. Gelombang serangan balistik dan drone Iran memaksa AS dan sekutunya menguras stok interceptor dalam jumlah besar. Dalam satu minggu saja, sekitar 140 Patriot PAC-3 MSE dan lebih dari 150 THAAD digunakan.
Angka ini cukup mengkhawatirkan, mengingat sebagian stok sebelumnya sudah terpakai dalam konflik lain, termasuk untuk melindungi Israel.
Di sinilah masalah mulai terlihat jelas: konsumsi amunisi jauh melampaui kecepatan produksi. Dalam hitungan hari, kebutuhan penggantian amunisi diperkirakan mencapai US$20–26 miliar. Namun persoalan utamanya bukan sekadar biaya, melainkan kemampuan industri untuk mengejar kebutuhan tersebut.
Penggunaan ratusan rudal Tomahawk di awal perang, misalnya, jauh melampaui rencana produksi tahunan. Bahkan, untuk sistem seperti THAAD, pengiriman sempat terhenti sejak 2023.
Masalah makin rumit karena rantai pasok yang terbatas. Beberapa komponen penting hanya diproduksi oleh segelintir perusahaan dengan waktu tunggu panjang. Ditambah lagi, ketergantungan pada mineral kritis dari luar negeri membuat peningkatan produksi tidak bisa dilakukan secara cepat, meski dana tersedia.
Di sisi lain, tekanan juga terasa pada armada laut. Kapal induk dikerahkan dalam durasi panjang untuk menjaga kehadiran militer di kawasan. USS Gerald R. Ford, misalnya, telah beroperasi berbulan-bulan tanpa jeda signifikan. Kondisi ini meningkatkan risiko keausan dan beban perawatan di masa depan.
Analis pun mulai memperingatkan potensi “kekosongan kehadiran” di beberapa wilayah. Bukan karena jumlah kapal kurang, tetapi karena kesiapan operasional yang menurun akibat penggunaan intensif. Faktor manusia juga tak luput dari tekanan—penugasan panjang meningkatkan kelelahan personel dan berisiko menurunkan kesiapan tempur.
Meski begitu, konflik ini juga membawa pelajaran penting. Militer AS mendapatkan pengalaman tempur skala besar, sekaligus menguji penggunaan sistem berbasis kecerdasan buatan dalam pengambilan keputusan. Selain itu, tren penggunaan drone murah mulai menunjukkan arah baru dalam strategi perang modern.
Namun secara keseluruhan, perang di Iran mempercepat tekanan terhadap kapasitas militer AS. Sebagian fokus yang sebelumnya diarahkan ke Asia kini bergeser ke Timur Tengah—sebuah perubahan yang bisa berdampak pada kesiapan AS di kawasan Pasifik dalam beberapa tahun ke depan.
Kesimpulannya jelas: laju penggunaan amunisi kini melampaui kecepatan produksinya. Dan selisih inilah yang akan menjadi penentu seberapa lama Amerika mampu bertahan dalam konflik berskala besar.
Komentar
Posting Komentar