Perang di Iran tak hanya soal medan tempur, ia membuka kembali satu kelemahan lama militer Amerika Serikat (AS): stok amunisi yang belum siap untuk menghadapi konflik panjang di banyak front sekaligus. Mengutip The Economist, bahkan di fase awal, intensitas perang sudah melonjak tajam. Dalam empat hari pertama saja, lebih dari 5.000 amunisi dikerahkan. Angka itu hampir dua kali lipat menjadi sekitar 11.000 dalam 16 hari. Skala ini menjadikan operasi pembuka sebagai salah satu yang paling intens dalam beberapa dekade terakhir. Menariknya, lonjakan besar ini terjadi saat pesawat tempur belum sepenuhnya leluasa memasuki wilayah Iran. Sistem pertahanan udara Iran masih aktif, memaksa serangan dilakukan dari jarak jauh. Akibatnya, AS mengandalkan amunisi presisi jarak jauh, yang mahal dan jumlahnya terbatas. Pusat Studi CSIS mencatat, lebih dari 1.000 unit amunisi jenis ini sudah habis hanya dalam enam hari pertama, termasuk rudal anti-radar untuk melumpuhkan pertahanan lawan. Namun, situas...