Yuk Belanja

Gambar
 Alternatif tempat belanja lewat shopee ya  Baju setelan anak keren Belanja disini

Iran buka Selat Hormuz terbatas, Trump keluarkan ancaman serangan besar!

Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran menyatakan tetap membuka Selat Hormuz bagi pelayaran internasional


Namun dengan satu pengecualian tegas: kapal yang dianggap sebagai musuh. Sikap ini langsung memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengancam akan menyerang infrastruktur vital Iran jika jalur tersebut tidak dibuka sepenuhnya.

Perwakilan Iran untuk Organisasi Maritim Internasional (IMO), Ali Mousavi, menegaskan bahwa Teheran siap bekerja sama demi menjamin keselamatan maritim di kawasan Teluk. Ia menyatakan kapal-kapal non-musuh tetap dapat melintasi Selat Hormuz, asalkan melakukan koordinasi keamanan dengan pihak Iran.

“Diplomasi tetap menjadi prioritas Iran. Namun, penghentian agresi sepenuhnya serta saling percaya dan keyakinan lebih penting,” ujar Mousavi, Minggu (22/3/2026). Ia juga menilai serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran sebagai akar dari memanasnya situasi di Selat Hormuz.

Di tengah ketegangan tersebut, data pelacakan menunjukkan sejumlah kapal, termasuk dari India dan Pakistan, masih berhasil melintas dengan aman. Pakistan sendiri berada dalam posisi unik, menjaga hubungan baik dengan Iran sekaligus mempertahankan kedekatan dengan AS dan Arab Saudi.

Sebelumnya, Iran menutup Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia—menyusul serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Teheran kemudian membalas dengan menyerang pangkalan militer AS serta fasilitas energi di negara-negara Teluk, yang langsung mengguncang harga energi global.

Situasi semakin memanas ketika Trump mengeluarkan ultimatum keras: Iran diberi waktu 48 jam untuk membuka penuh Selat Hormuz tanpa ancaman. Jika tidak, AS akan menargetkan dan menghancurkan pembangkit listrik Iran.

“Jika Iran tidak sepenuhnya membuka Selat Hormuz dalam 48 jam, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar,” tulis Trump di media sosial.

Ancaman tersebut menyoroti sejumlah fasilitas energi penting Iran, seperti pembangkit gas Damavand di dekat Teheran, serta pembangkit di Kerman dan Ramin, termasuk PLTN Bushehr. Serangan terhadap jaringan ini berpotensi memicu pemadaman luas dan melumpuhkan sektor energi hingga fasilitas militer.

Analis pasar IG, Tony Sycamore, menilai langkah Trump bertujuan menekan Iran secara ekonomi dan politik agar mengakhiri blokade Selat Hormuz. Strategi ini juga dinilai sebagai upaya menghindari serangan langsung ke ladang gas utama South Pars yang berisiko mengguncang pasokan energi global dalam jangka panjang.

Namun, ancaman tersebut justru meningkatkan ketidakpastian pasar. Sycamore memperingatkan potensi “Black Monday”, di mana pasar saham global bisa anjlok tajam sementara harga minyak melonjak drastis jika ultimatum tidak dicabut.

Di sisi lain, Iran menunjukkan sikap tak gentar. Markas militer Khatam al-Anbiya bahkan merencanakan serangan terhadap infrastruktur energi, teknologi, dan fasilitas penting milik AS dan Israel di kawasan, termasuk di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.

Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Ghalibaf, memperingatkan bahwa serangan terhadap pembangkit listrik Iran dapat berujung pada kehancuran permanen fasilitas energi di Timur Tengah. Ia menegaskan, pembalasan Iran akan mendorong lonjakan harga minyak, meski hanya bersifat sementara.

Harga minyak sendiri sudah melonjak di atas 100 dolar AS per barel pada Jumat (20/3/2026), mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun terakhir. Lonjakan ini dipicu oleh kondisi geopolitik, termasuk status force majeure di ladang minyak Irak dan serangan Israel ke South Pars.

Perkembangan terbaru menunjukkan konflik bergerak ke arah yang semakin berbahaya, terutama setelah Iran dilaporkan mampu menembus pertahanan udara Israel di wilayah Dimona, dekat reaktor nuklir rahasia negara tersebut. Meski demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan belum menemukan tanda kerusakan atau radiasi abnormal.

Ketegangan kian meningkat setelah Iran menyerang Israel sebagai respons atas serangan ke fasilitas nuklirnya di Natanz, yang dilaporkan tidak menimbulkan kebocoran. Israel membantah keterlibatan, sementara Pentagon memilih tidak berkomentar.

Dalam eskalasi terbaru, Iran untuk pertama kalinya meluncurkan rudal jarak jauh ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia. Menurut militer Israel, rudal tersebut memiliki jangkauan hingga 4.000 kilometer, bahkan diklaim mampu mencapai kota-kota besar Eropa seperti London, Paris, dan Berlin. Namun, klaim ini diragukan oleh pihak Inggris karena belum ada bukti pendukung.

“Kami tidak akan terseret ke dalam perang, tetapi akan melindungi kepentingan kami dan bekerja sama dengan sekutu untuk meredakan situasi,” ujar Menteri Inggris Steve Reed.

Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa konflik AS-Israel dan Iran kini berada di titik yang semakin kritis, dengan risiko meluas menjadi krisis regional yang berdampak besar pada stabilitas global dan pasar energi dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pajak kendaraan di Jawa barat diskon 10%

Eropa mau stop gas dari Rusia… tapi Kremlin bilang: itu justru bunuh diri!

7 AI Gratis yang Bisa Menghasilkan Uang di 2026 (Tanpa Modal!)